Mark Zuckerberg pernah membayangkan Meta dengan jauh lebih sedikit pekerja manusia. Pada awal 2026, CEO Meta itu bersama jajaran eksekutifnya menyusun Project OT atau Organization Transformation. Proyek tersebut dirancang untuk mengubah struktur kerja Meta dengan menjadikan kecerdasan buatan sebagai bagian utama dari operasional perusahaan.
Lewat Project OT, Meta ingin membangun organisasi yang disebut lebih AI native. Sejumlah tugas yang selama ini dikerjakan karyawan akan dialihkan kepada agen AI, sementara tim manusia dibuat lebih kecil dan lebih berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan pengambilan keputusan.
Dalam skenario yang dibahas perusahaan, ukuran sejumlah tim bahkan dapat dipangkas hingga 60 persen. Namun angka itu tidak berarti Meta berencana memangkas 60 persen seluruh karyawannya. Rencana tersebut menyasar tim-tim tertentu sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi.
Rencana besar itu kemudian mulai berubah ketika diterapkan di lapangan.
Project OT dan eksperimen organisasi AI
Project OT lahir dari keyakinan bahwa perkembangan agen AI dapat membuat perusahaan bekerja dengan jumlah manusia yang lebih sedikit.
Gambaran yang dibangun Meta cukup berbeda dari struktur perusahaan teknologi konvensional. Tim yang sebelumnya terdiri dari belasan orang dapat dipecah menjadi kelompok yang lebih kecil atau pods. Di belakang mereka, agen AI diharapkan menangani sebagian pekerjaan rutin dan teknis.
Tujuannya bukan hanya mengurangi biaya. Meta ingin mengurangi lapisan organisasi dan meningkatkan produktivitas dengan menempatkan manusia pada pekerjaan yang dianggap memiliki nilai lebih tinggi.
Namun ketika rencana itu mulai diketahui karyawan, persoalan muncul dari sisi lain. Sejumlah pekerja melihat transformasi AI tersebut sebagai ancaman langsung terhadap posisi mereka. Kekhawatiran semakin besar karena komunikasi mengenai restrukturisasi dinilai tidak berjalan dengan baik.
Situasi internal itu kemudian bertemu dengan persoalan yang lebih sulit diukur, yakni apakah teknologi yang menjadi dasar Project OT benar-benar mampu memberikan produktivitas seperti yang diharapkan.
Banyak kode, tetapi hasilnya tidak sebanding
Salah satu indikatornya terlihat dari pekerjaan para engineer Meta.
Data internal yang dikutip Reuters menunjukkan perubahan kode pada perangkat lunak dan infrastruktur Meta meningkat sekitar 220 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun perubahan yang menghasilkan fitur baru atau peningkatan yang benar-benar sampai kepada pengguna hanya meningkat sekitar 36 persen.
Kesenjangan tersebut menjadi masalah bagi strategi yang mengandalkan AI untuk mengurangi kebutuhan tenaga manusia.
Produksi kode memang meningkat, tetapi setiap hasil tetap harus diuji dan diperiksa. Dalam sejumlah kasus, penggunaan AI juga menambah persoalan teknis. Reuters melaporkan insiden besar pada sistem Meta meningkat sekitar 40 persen, sementara waktu yang digunakan karyawan untuk menangani masalah tersebut naik sekitar 70 persen.
Dengan kondisi tersebut, klaim bahwa AI secara otomatis membuat organisasi lebih kecil menjadi semakin sulit dipertahankan.
Zuckerberg mulai mengerem
Perubahan arah terjadi menjelang pelaksanaan gelombang PHK berikutnya.
Meta tetap menjalankan PHK sekitar 10 persen tenaga kerjanya pada Mei 2026. Namun beberapa jam sebelum rencana restrukturisasi lanjutan yang dijadwalkan untuk November, Zuckerberg menghentikan persiapannya. Tidak lama kemudian, ia menyampaikan kepada karyawan bahwa Meta tidak memperkirakan adanya PHK besar tambahan di seluruh perusahaan sepanjang 2026.
Zuckerberg juga mengakui bahwa perkembangan agen AI belum secepat perkiraan sebelumnya.
Keputusan tersebut tidak berarti Meta mengurangi ambisinya di bidang AI. Sebaliknya, perusahaan tetap menyiapkan investasi lebih dari 130 miliar dolar AS untuk infrastruktur dan chip AI pada 2026. Yang berubah adalah cara AI ditempatkan dalam strategi tenaga kerja Meta.
AI masih dianggap sebagai bagian penting dari masa depan perusahaan, tetapi gagasan bahwa teknologi itu dapat dengan cepat menggantikan pekerja dalam jumlah besar mulai mendapat koreksi.
Dari menggantikan menjadi membantu
Project OT akhirnya menjadi salah satu eksperimen paling jelas tentang batas penerapan AI di lingkungan kerja.
Teknologi tersebut terbukti mampu mengambil alih sejumlah tugas. Persoalannya muncul ketika tugas-tugas itu menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih kompleks. Membuat kode, misalnya, hanyalah satu tahap. Hasil akhirnya tetap membutuhkan pengujian, koordinasi, keputusan, dan tanggung jawab manusia.
Pengalaman Meta menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan AI tidak otomatis menghasilkan organisasi yang membutuhkan lebih sedikit manusia.
Untuk saat ini, perusahaan yang paling agresif mendorong penggunaan AI tersebut justru memilih bergerak lebih hati-hati. Meta tetap membangun teknologi dan infrastrukturnya, tetapi rencana untuk menjadikan AI sebagai pengganti tenaga kerja dalam skala besar mulai diturunkan dari prioritas utama.
Project OT belum tentu menjadi akhir dari ambisi Meta membangun perusahaan yang berpusat pada AI. Namun eksperimen tersebut sudah memberikan satu fakta penting.
Bahkan di Meta, mengubah pekerjaan manusia menjadi pekerjaan mesin ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar menghadirkan teknologi AI.



