Di tengah dominasi game dunia terbuka dan RPG modern, Capcom memilih menghidupkan kembali salah satu franchise yang sempat menghilang hampir 20 tahun. Onimusha: Way of the Sword resmi dirilis pada 4 September 2026 untuk PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X/S, sekaligus menjadi kebangkitan franchise yang pertama kali populer di era PlayStation 2.
Bagi gamer generasi 2000-an, nama Onimusha identik dengan aksi samurai, monster iblis Genma, dan pertarungan pedang yang brutal di era PlayStation 2. Namun bagi Gen Z dan Gen Alpha, franchise ini nyaris menjadi nama asing karena terakhir merilis seri utama lebih dari dua dekade lalu.
Kembalinya Onimusha bukan sekadar proyek nostalgia. Capcom membawa identitas baru dengan visual yang jauh lebih realistis, sistem pertarungan modern, dan protagonis yang terinspirasi dari salah satu pendekar paling terkenal dalam sejarah Jepang: Miyamoto Musashi.
Franchise yang tidur hampir 20 tahun
Onimusha pertama kali hadir pada 2001 dan langsung menjadi salah satu game aksi terbaik di PlayStation 2. Seri ini dikenal karena memadukan sejarah Jepang dengan fantasi gelap, menghadirkan dunia feodal yang dipenuhi makhluk iblis bernama Genma.
Kesuksesannya melahirkan beberapa sekuel, tetapi setelah Onimusha: Dawn of Dreams pada 2006, franchise tersebut praktis menghilang dari industri game. Selama bertahun-tahun, penggemar hanya mendapatkan versi remaster tanpa kabar mengenai seri baru.
Baru pada 2026 Capcom akhirnya mengembalikan Onimusha sebagai proyek utama. Keputusan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menghidupkan kembali IP klasik setelah keberhasilan Resident Evil, Street Fighter, dan Dragon's Dogma.
Miyamoto Musashi jadi wajah baru Onimusha
Alih-alih melanjutkan kisah protagonis lama, Capcom memilih menghadirkan Miyamoto Musashi sebagai tokoh utama.
Musashi merupakan samurai legendaris Jepang yang dikenal lewat duel-duelnya sepanjang periode Edo. Dalam Way of the Sword, sosok historis tersebut dipadukan dengan elemen fantasi khas Onimusha, sehingga pemain tidak hanya menghadapi manusia, tetapi juga pasukan Genma yang menguasai Kyoto.
Pendekatan ini membuat cerita terasa lebih mudah diikuti pemain baru, sekaligus tetap menghormati akar sejarah yang menjadi identitas franchise sejak awal.
Bukan Ghost of Tsushima, bukan Sekiro
Banyak pemain langsung membandingkan Onimusha dengan Ghost of Tsushima maupun Sekiro: Shadows Die Twice. Meski sama-sama bertema samurai, ketiganya memiliki filosofi permainan yang berbeda.
Ghost of Tsushima berfokus pada eksplorasi dunia terbuka, sementara Sekiro dikenal lewat tingkat kesulitan tinggi dan sistem parry yang presisi. Onimusha justru kembali pada identitasnya sebagai action hack-and-slash dengan tempo cepat, kombo pedang, serta kemampuan menyerap jiwa musuh untuk memperkuat senjata.
Capcom juga memperlihatkan sistem pertarungan yang lebih sinematik. Setiap tebasan terasa berat, efek darah dan percikan logam dibuat lebih realistis, sementara duel melawan bos menjadi pusat pengalaman bermain.
Hasilnya adalah game yang terasa modern tanpa kehilangan ciri khas seri klasiknya.
Kyoto menjadi medan perang utama
Latar utama Way of the Sword adalah kota Kyoto, tetapi bukan Kyoto yang damai seperti dalam buku sejarah. Capcom mengubahnya menjadi kota yang dipenuhi kabut, kuil terbengkalai, gang sempit, hingga kastel yang dikuasai makhluk iblis.
Lingkungan tersebut memperkuat nuansa horor yang sejak dulu menjadi pembeda Onimusha dibanding game samurai lain. Musuh tidak hanya datang dalam bentuk prajurit, tetapi juga monster dengan desain grotesk yang terinspirasi cerita rakyat Jepang.
Atmosfer inilah yang membuat banyak penggemar menyebut Onimusha sebagai perpaduan antara film samurai dan horor fantasi.
Mengapa comeback ini penting?
Industri game beberapa tahun terakhir dipenuhi remake dan remaster. Namun Onimusha memilih jalur berbeda dengan membangun seri baru dari nol menggunakan teknologi generasi terbaru.
Bagi pemain lama, ini menjadi kesempatan melihat franchise favorit kembali hidup setelah vakum hampir dua dekade. Sementara bagi Gen Z yang tumbuh bersama Ghost of Tsushima atau Rise of the Ronin, Way of the Sword berpotensi menjadi pintu masuk mengenal salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah game aksi Jepang.
Capcom tampaknya sadar bahwa nostalgia saja tidak cukup. Karena itu, Way of the Sword tidak dijual sebagai game lama dengan grafis baru, melainkan sebagai interpretasi modern yang tetap mempertahankan identitas Onimusha.
Samurai klasik untuk generasi baru
Kembalinya Onimusha menandai satu hal yang menarik di industri game 2026: franchise klasik kembali mendapat ruang di tengah dominasi IP baru. Setelah hampir 20 tahun menjadi legenda yang hanya dikenang pemain PlayStation 2, Way of the Sword memberi kesempatan bagi generasi baru untuk merasakan dunia samurai gelap yang pernah menjadi ikon Capcom.
Jika berhasil memenuhi ekspektasi, Onimusha bukan hanya akan menjadi comeback sebuah franchise, tetapi juga membuktikan bahwa game berusia puluhan tahun masih bisa relevan ketika dihidupkan kembali dengan visi yang tepat.



