Industri game Indonesia kembali mencatatkan pencapaian baru lewat Riftstorm, game aksi kooperatif buatan studio lokal Confiction Labs yang resmi meluncur di Steam dalam format Early Access. Menariknya, proyek ini bukan lahir dalam waktu singkat, melainkan melalui proses pengembangan selama hampir lima tahun sebelum akhirnya dirilis secara global.
Di tengah dominasi game multiplayer internasional, Riftstorm hadir membawa identitas yang berbeda. Game ini menggabungkan aksi tembak-menembak, kemampuan supranatural, dan misi kooperatif empat pemain dalam satu pengalaman bergaya PvE extraction shooter. Kehadirannya sekaligus menunjukkan bahwa studio Indonesia kini mulai berani bermain di genre yang selama ini didominasi pengembang Barat.
Berawal dari proyek kecil hingga rilis global
Confiction Labs mulai mengembangkan Riftstorm sekitar 2021 dengan ambisi membangun game multiplayer yang mampu bersaing di pasar internasional. Selama lima tahun, tim pengembang terus melakukan penyempurnaan mulai dari desain karakter, sistem pertarungan, hingga infrastruktur online agar mampu mendukung permainan kooperatif.
Hasilnya adalah peluncuran global melalui Steam pada 11 Agustus 2026, menjadikan Riftstorm dapat dimainkan oleh pemain dari berbagai negara melalui platform PC. Status Early Access juga berarti pengembang masih akan menambahkan konten baru berdasarkan masukan komunitas selama masa pengembangan berlanjut.
Mengusung genre extraction shooter dengan sentuhan supranatural
Berbeda dari battle royale atau FPS kompetitif, Riftstorm mengajak pemain membentuk tim berisi hingga empat orang untuk menyelesaikan misi melawan ancaman supranatural yang muncul dari celah dimensi bernama Rift.
Setiap misi menempatkan pemain di area berbahaya yang dipenuhi monster dan anomali. Tujuannya bukan sekadar mengalahkan musuh, tetapi juga mengumpulkan loot, menyelesaikan objektif, lalu berhasil keluar dari zona pertempuran dalam keadaan selamat.
Konsep extraction inilah yang membuat setiap keputusan terasa penting. Semakin lama bertahan, semakin besar hadiah yang diperoleh, tetapi risiko kehilangan seluruh hasil misi juga ikut meningkat apabila tim gagal keluar hidup-hidup.
Setiap karakter memiliki kekuatan unik
Riftstorm tidak hanya mengandalkan senjata api. Setiap karakter dibekali kemampuan supranatural yang memberikan gaya bermain berbeda-beda.
Ada karakter yang berfokus pada serangan jarak jauh dengan energi listrik, ada pula yang mampu menciptakan perisai untuk melindungi rekan satu tim. Kombinasi kemampuan tersebut mendorong pemain menyusun strategi sebelum memulai misi, sehingga kerja sama menjadi elemen utama dibanding kemampuan individu.
Pendekatan ini membuat Riftstorm terasa lebih dekat dengan game kooperatif seperti Left 4 Dead atau Warframe, tetapi tetap memiliki identitas sendiri melalui sistem kekuatan paranormal dan dunia sci-fi yang gelap.
Visual bergaya futuristik dengan atmosfer horor
Salah satu kekuatan Riftstorm terletak pada desain dunianya. Lingkungan permainan dipenuhi laboratorium terbengkalai, fasilitas penelitian, hingga kawasan industri yang telah dikuasai makhluk dari dimensi lain.
Nuansa futuristik dipadukan dengan pencahayaan gelap dan efek partikel yang memperkuat atmosfer horor. Alih-alih menghadirkan jumpscare, ketegangan dibangun melalui suara lingkungan, kemunculan monster secara tiba-tiba, dan tekanan untuk segera menyelesaikan misi sebelum situasi semakin berbahaya.
Gaya visual tersebut membuat Riftstorm tampil berbeda dari banyak game lokal yang umumnya mengangkat budaya atau mitologi Nusantara.
Langkah besar bagi industri game Indonesia
Peluncuran Riftstorm menjadi sinyal positif bagi ekosistem pengembangan game nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, studio Indonesia mulai mendapat perhatian internasional lewat berbagai genre, mulai dari horor, simulasi, hingga action RPG. Riftstorm memperluas daftar tersebut dengan masuk ke ranah multiplayer online beranggaran lebih besar.
Keputusan merilis game melalui Steam juga membuka peluang membangun komunitas global sejak awal. Dengan model Early Access, pemain dapat memberikan masukan yang nantinya digunakan untuk menyeimbangkan senjata, memperbaiki performa, dan menambah konten baru seperti karakter, misi, maupun area eksplorasi.
Masih akan terus berkembang
Meski telah resmi tersedia di Steam, Riftstorm belum dianggap sebagai produk akhir. Confiction Labs menyatakan fase Early Access menjadi periode penting untuk menyempurnakan pengalaman bermain berdasarkan umpan balik komunitas.
Artinya, pemain kemungkinan akan melihat penambahan mode permainan, karakter baru, hingga perluasan cerita dunia Riftstorm dalam beberapa pembaruan mendatang.
Bagi industri game Indonesia, Riftstorm bukan hanya tentang satu judul baru. Game ini menjadi bukti bahwa studio lokal kini mampu mengembangkan proyek berskala global dengan proses produksi bertahun-tahun dan berani bersaing di salah satu genre paling kompetitif di pasar PC.



